Peluang dan Tantangan Direkrutnya Mushi dan Dendi ke Tigers



Kejutan kembali terjadi ketika Tigers, salah satu tim DoTA 2 yang berbasis di Southeast Asia (SEA) merekrut Mushi. Yup, Inyourdream dan Ahjit yang memutuskan keluar dari tim tersebut menjadikan Tigers hanya diisi oleh 3 orang. 1 pemain yang datang (Mushi) bukan orang yang asing lagi bagi komunitas DoTA 2. Semua hal di atas berujung kepada satu pertanyaan: siapa pemain ke lima dari Tigers? Banyak spekulasi yang bermunculan, salah satu “orang dalam” Tigers bahkan mengatakan 2 nama, yaitu Mushi dan Black yang kemudian Black diralat jadi QO wkwkw (gue bingung knp org dalem bisa maen ralat gitu). Penantian pun datang pada 22 Januari tengah malam Waktu Indonesia Barat, dimana yang direkrut adalah the living legend: Oppa Dendi. 2 pemain yang baru masuk akan lebih lanjut dibahas dalam tulisan kali ini, berjudul Peluang dan Tantangan Direkrutnya Mushi dan Dendi ke Tigers.
Pro dan kontra terjadi di berbagai komunitas DoTA 2, salah satunya dalam grup facebook Kawanan Burung. Meskipun komentar pro lebih terlihat, tak jarang komentar kontra pun ada terhadap perekrutan 2 pemain ini. Banyak yang tidak menyangka kedua pemain ini akan masuk, dan ada juga yang menganggap pemain tersebut terlalu “old” dan dinilai tidak akan bisa mengangkat tim. Perekrutan Dendi memang menimbulkan 2 persepsi, yaitu secara resmi atau hanya stand-in mengingat dia masih mempunyai kontrak di Navi. Akan tetapi fokus tulisan tidak akan membahas kontrak, tetapi membahas peluang dan tantangan serta apa yang akan terjadi jika Tigers berkompetisi dengan 2 roster barunya. Sebelum menuju hal tersebut, mari kita lihat sepak terjang kedua pemain ini di DoTA 2.
Mushi


Pemain yang berkebangsaan Malasyia ini mempunyai karir yang sangat baik di DoTA 2. Chai “Mushi” Yee Fung menunjukkan kegigihannya dengan hanya absen 2 kali (2011 dan 2017) di event terbesar yaitu The International. Debut di Orange Esports bersama kYxY dan Ohaiyo membuahkan hasil di tahun 2013 dimana ia berhasil meraih posisi 3 di TI. Team DK menjadi rumah baru Mushi selanjutnya. Ditemani oleh iceiceice, kala itu Mushi harus puas di posisi 4. Tahun 2015, ia kembali bermain dengan kYxY dan Ohaiyo tetapi dengan tim yang berbeda, yaitu Fnatic. Sayangnya dia hanya meraih posisi ke 15 dari 16 tim di TI5. Kegigihan dan rasa penasaran dari pemain yang berasal dari Malasyia ini membawa Mushi melanjutkan perjalanannya bersama Fnatic (kali ini bersama MidOne dan Ohaiyo) dan berhasil meraih posisi 4 pada TI6. Tidak puas dengan hasil sebelumnya, dia mencoba peruntungan dengan Mineski pada TI7 akan tetapi harus menyerah di tangan Execration pada Main Qualifier. TI8 kemarin ia kembali mengajak rekan satu timnya di Team DK yaitu iceiceice. Berbagai hasil minor dan major berhasil ia raih saat 2018 lalu, namun raihan tersebut tidak mengubah nasib dia di The International 2018 (hanya finish di posisi 10).
Dendi


Siapa yang tak kenal nick yang satu ini? Dikenal sebagai orang yang setia, (maen di NaVi dari 2011 cuk wkwk) Danil “Dendi” Ishutin adalah the living legend di DoTA 2. Karirnya di game ini sangat cemerlang, dibuktikan dengan berturut-turut hadir menjadi finalis di The International 2011, 2012 dan 2013. Tahun 2011 menjadi hal paling manis dalam hidupnya setelah kala itu ia berhasil meraih Aegis of Immortal pertama. Aegis tersebut tidak bisa diraih kedua kalinya oleh Dendi setelah di tahun selanjutnya (2012) harus menyerah oleh Team asal China yaitu Invictus Gaming. Harapan untuk memeluk Aegis pun kembali sirna di tangan Alliance pada TI3 dimana momen yang paling diingat saat itu adalah “One Million Dollar Dream Coil” hasil cancel TP s4 kepada Dendi. Dia kemudian kembali hadir di TI4. Masih bersama Puppey dan XBOCT, NaVi harus mengubur kembali impian untuk meraih aegis kedua kalinya setelah harus puas dengan posisi 8. Performa Dendi bersama NaVi semakin menurun di tahun selanjutnya ketika dia terjun bebas ke lower bracket dan hanya finish di posisi 14. TI6 yang kembali dihadiri oleh Dendi tidak bisa menaikkan performa NaVi setelah kalah oleh Liquid di lower bracket dan finish di posisi terakhir yaitu 16. Tahun 2017 menjadi masa-masa suram bagi Dendi setelah dia tidak bisa lolos dari Main Qualifier, dan banyak yang menilai gaya bermain Dendi terlalu “old” dan dia lah yang menjadi biang dari performa buruk Na’Vi.
Peluang dan Tantangan Direkrutnya Mushi dan Dendi ke Tigers



Peluang

Berbagai turnamen minor dan major akan menjadi peluang bagi Tigers. Event minor terdekat yang menghasilkan DPC Points yaitu StarLadder Season 6. Pemenang dari event tersebut bisa langsung ke event major selanjurnya, yaitu Dream League S11. Selain event minor dan major, impian semua player DoTA yaitu bermain di The International harus menjadi tujuan tersendiri bagi Tigers. Dengan adanya Mushi yang hanya absen 2 kali di TI dan the living legend yaitu Dendi, bukan hal yang tidak mungkin tujuan tersebut bisa tercapai.

Tantangan

Sebelum ke pentas minor dan major, Tigers yang berbasis di SEA akan menghadapi 2 raksasa yang kita ketahui sebagai langganan minor maupun major, yaitu TNC Predator dan Fnatic. Tantangan ini semakin berat ketika Mushi harus berhadpaan dengan ­eks-teammate nya di Mineski tahun lalu (yang kini bermain di Fnatic)  yaitu iceiceice dan Jabz. Belum lagi dengan adanya tim-tim lain seperti BOOM ID yang kemarin berhasil lolos ke Bucharest Minor, Lotac yang diisi oleh Raven dan Ohaiyo, maupun tim-tim pinoy (no offense cuk) yang siap menghadang laju dari Tigers. Playstyle dari dua pemain ini menjadi tantangan selanjutnya, terutama Dendi. Banyak yang berpendapat playstyle dari Dendi tidak bisa mengikuti patch yang ada. Banyaknya darah muda di SEA ; Abed 18 tahun, Armel 19 tahun dan midlaner lain yang sekali lagi akan menantang sang living legend tersebut untuk membuktikan kapasitasnya.

Pro dan Kontra yang ditimbulkan dari perekrutan 2 pemain ini mengerucut ke satu pernyataan. Kapan Tigers dan tim-tim lainnya yang berbasis di SEA bisa menunjukkan tajinya di kelas dunia? Kiblat The International saat ini hanya terarah pada tim-tim eropa dan China. Pola dari juara The International pun cenderung ke tim tersebut, dan baru tahun kemarin pola team Eropa-China dipecahkan oleh OG. Apakah Tigers bisa mengubah pola itu? Akankah tim SEA pada 2019 ini menunjukkan kebolehannya? Menarik untuk kita amati.

Demikian Peluang dan Tantangan dari Direkrutnya Mushi dan Dendi ke Tigers. Apa pendapat kalian? Komen di bawah yaa :D.

Sumber:
https://twitter.com/dendiboss?lang=en
http://liquipedia.net/dota2

Posting Komentar

0 Komentar